Di sebuah sudut kota yang ramai, hidup seekor kucing jalanan berwarna abu-abu kusam. Tubuhnya kecil, bulunya tidak sebersih kucing lain, dan matanya selalu menatap dengan harap, tapi hati-hati. Setiap pagi orang-orang datang. Mereka berhenti. Mereka melihat. Ada yang tersenyum. Ada yang membungkuk. Ada yang berkata, Yang ini lucu. Yang itu cantik. Satu persatu kucing lain diangkat, dipeluk, lalu dibawa pergi. Sementara kucing abu-abu itu tetap duduk di sudut yang sama. Ia tidak marah. Ia tidak mengeong keras. Ia hanya menunggu. Dengan harapan yang semakin pelan. Hari berganti hari, hujan turun, matahari terik. Ia tetap ada di sana. Setiap kali tangan manusia mendekat, jantungnya berdegup lebih cepat. Tolong, kali ini aku, seakan itu yang ingin ia katakan. Tapi tangan itu selalu berbelok, menuju kucing lain. Orang-orang berkata, kasihan, tapi yang ini kurang menarik. Yang ini terlalu biasa. Yang ini mungkin merepotkan. Kucing abu-abu itu tidak tahu arti kata-kat...