Kisah Kucing Abu-abu Kusam Ditengah Hiruk-Pikuk Kota
Di sebuah sudut kota yang ramai, hidup seekor kucing jalanan berwarna abu-abu kusam.
Tubuhnya kecil, bulunya tidak sebersih kucing lain, dan matanya selalu menatap dengan harap, tapi hati-hati. Setiap pagi orang-orang datang.
Mereka berhenti. Mereka melihat. Ada yang tersenyum. Ada yang membungkuk. Ada yang berkata, Yang ini lucu. Yang itu cantik. Satu persatu kucing lain diangkat, dipeluk, lalu dibawa pergi.
Sementara kucing abu-abu itu tetap duduk di sudut yang sama. Ia tidak marah. Ia tidak mengeong keras. Ia hanya menunggu.
Dengan harapan yang semakin pelan. Hari berganti hari, hujan turun, matahari terik. Ia tetap ada di sana.
Setiap kali tangan manusia mendekat, jantungnya berdegup lebih cepat. Tolong, kali ini aku, seakan itu yang ingin ia katakan. Tapi tangan itu selalu berbelok, menuju kucing lain.
Orang-orang berkata, kasihan, tapi yang ini kurang menarik. Yang ini terlalu biasa. Yang ini mungkin merepotkan. Kucing abu-abu itu tidak tahu arti kata-kata itu.
Ia hanya tahu satu hal. Ia tidak pernah dipilih. Suatu malam ia duduk sendirian di bawah lampu jalan. Tubuhnya gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena lelah berharap.
Ia mulai berpikir, mungkin aku memang tidak cukup baik. Mungkin aku memang tidak layak dibawa pulang. Hari itu tidak ada yang datang, tidak ada yang melihat, tidak ada yang memilih.
Hingga seorang anak kecil berhenti. Ia tidak langsung mengulurkan tangan. Ia hanya duduk. Sejajar, anak itu berkata pelan, kamu pasti capek menunggu lama. Untuk pertama kalinya, kucing abu-abu itu tidak merasa sendirian.
Anak itu memeluknya. Bukan karena bulunya indah, bukan karena ia lucu, tapi karena ia ada. Saat mereka berjalan pergi, kucing itu menoleh sebentar. Ketempat ia menunggu begitu lama, dan ia mengerti, bukan semua orang yang tidak memilih kita berarti kita tidak berharga.
Terkadang, kita hanya menunggu orang yang tepat, karena yang memilih dengan hati tidak mencari yang sempurna, mereka mencari yang tulus. Dan mungkin......
Kita bukan ditolak oleh dunia. Kita hanya sedang diarahkan ke tempat di mana kita benar-benar dibutuhkan.


Komentar
Posting Komentar