Katanya Belanda memaksa rakyat kerja tanpa bayaran. Tapi faktanya, uang itu pernah dibayar. Tahun 1808, Herman Willem Dendels membangun jalan raya pos dari Anyer sampai Panarukan. Ribuan pribumi dikerahkan. Banyak yang mati, lelah, kelaparan. Sejarah lalu menyebutnya kerja paksa, tapi dokumen Belanda bercerita lain. Dendels menggaji proyek itu. Uangnya bukan recehan, tercatat sekitar 30 ribu ringgit, jumlah besar di masanya. Tapi uang itu tidak pernah jatuh ke tangan para pekerja. Sistemnya lewat para bupati dan penguasa lokal. Dari atas ke bawah, dari meja ke meja. Di lapangan rakyat tetap bekerja tanpa menerima apa-apa. Mereka mati miskin, sementara catatan resmi menyebut telah dibayar. Hari ini, bukti pembayarannya masih ada. Disimpan rapi di museum di Belanda. Arsipnya bersih, angkanya jelas. Jadi kebohongan terbesar bukan soal ada atau tidaknya gaji, tapi soal kemana gaji itu pergi. Sejarah tidak selalu hitam putih. Kadang yang paling menyakitkan, justru terjadi ...
Rindu kian terasa. Lama kita tak berjumpa, kasihku, Kapankah kau kembali Bersamaku merangkai asmara. Ingin kugenggam erat jemarimu. Dan tak akan kulepas, Tahukah dirimu.. Aku rindu padamu. Datanglah oh kekasihku, Aku tak sabar menantimu, Datanglah temani diriku Jalani hari Yang penuh canda dan tawa. 🤣 🤣 🤣 ~ Terima ~ Kasih ~
Komentar
Posting Komentar